SELAMAT DATANG DI FLATBOARDS.BLOG

SEMUA HAL TENTANG DUNIA GAME ADA DISINI!!!

30 GAME PALING DINANTIKAN DI TAHUN 2014

Ini Gan 30 Game Paling Dinantikan Di Tahun 2014!!!

Suspendisse eget ante vitae ligula posuere

Excepteur sint occaecat cupid- atat non proident, sunt in culpa qui officia deserunt mollit anim id est laborum.

Quisque malesuada libero sed odio

Excepteur sint occaecat cupid- atat non proident, sunt in culpa qui officia deserunt mollit anim id est laborum.

Maecenas in enim vene- natis libero

Excepteur sint occaecat cupid- atat non proident, sunt in culpa qui officia deserunt mollit anim id est laborum.

Phasellus feugiat conse- ctetur sapien

Excepteur sint occaecat cupid- atat non proident, sunt in culpa qui officia deserunt mollit anim id est laborum.

Review Lord Of The Fallen : Sangat Mengecewakan dan Lebih Parah Dari AC Unity!

Lord Of The Fallen
Lord Of The Fallen
Popularitas Dark Souls memang melahirkan begitu banyak produk kompetitor lain yang berusaha mengekor formula kesuksesan yang sama, dari mekanik gameplay hingga tingkat kesulitan yang jadi nilai jual utama. Salah satu produk serupa yang cukup diantisipasi adalah Lords of the Fallen oleh developer asal Eropa – CI Games dan Deck13 Interactive. Impresi pertama yang ia tawarkan memang memesona, mengesankan sebuah proyek Dark Souls dengan kualitas visual yang lebih memanjakan mata, mekanik gameplay yang disempurnakan, namun juga penuh dengan fitur baru sebagai penguat identitas yang berbeda. Ia juga dikenal sebagai salah satu game PC yang menjadikan Denuvo sebagai benteng pertahanan dan belum bisa dibajak hingga saat ini. Lantas, bagaimana impresi pertama Lords of the Fallen ini? Kami hanya meminta untuk bersiap kecewa!

Kesan Pertama


Sebagai sebuah game multiplatform yang diracik untuk generasi terbaru, menjadi sesuatu yang sangat rasional untuk mengharapkan kualitas yang lebih optimal untuk mencicipi Lords of the Fallen ini di PC, seperti yang kami lakukan. Pertama kali Anda menyalakannya, bertemu dengan dungeon pertama, keputusan tersebut seolah terbayarkan di muka. Lords of the Fallen terlihat begitu manis secara visual, bahkan untuk setting yang tidak terlalu optimal. Ada harapan bahwa Anda akan menemukan sebuah game Dark Souls dengan identitas berbeda dan visual yang lebih mecenangkan, sesuatu yang tampaknya akan sangat mudah dicapai oleh Lords of the Fallen. Sayangnya potensi besar yang satu ini harus dicederai dengan fakta, bahwa ia benar-benar tampil sebagai game PC yang tidak dioptimasi dengan baik. Jika Anda sudah mengeluh soal apa yang dilakukan Ubisoft di Assassin’s Creed Unity, maka Anda mungkin akan muntah darah ketika mencicipi Lords of the Fallen di PC ini.
Kecewa dengan framerate kacau, beragam bug dan glitch AC Unity dari Ubisoft? Sekarang bayangkan sensasi tersebut hadir berkali-kali lipat dan Anda akan menemukan tingkat kekesalan yang bahkan berlebih di Lords of the Fallen. Kami mengalami begitu banyak crash tanpa alasan yang jelas, bahkan hingga puluhan kali hanya dalam waktu 15 menit. Dengan spesifikasi PC yang sudah mumpuni, hampir mustahil rasanya kalau ini mengakar pada PC kami. Apalagi kami sudah menjajalnya di dua rig terpisah, dan keduanya mengalami masalah yang sama. Lords of the Fallen tiba-tiba akan menutup dirinya sendiri, atau menendang Anda keluar dari Steam tanpa alasan yang jelas. Masuk pintu? Crash. Selesai melawan Boss? Crash. Buka peti? Crash. Di tengah pertarungan melawan musuh biasa? Crash. Dengan posisi checkpoint yang cukup jauh, Anda harus memulai segala sesuatunya kembali hanya untuk dikecewakan.
Berita buruknya, tidak ada yang tahu pasti mengapa semua crash ini terjadi. Empat kali crash berturut-turut di tempat yang sama, kami sempat hampir menyerah ini untuk menyajikan game ini untuk Anda sebagai sebuah review. Namun anehnya, di permainan yang kelima, kami bisa lolos dari titik crash sebelumnya dan melanjutkan permainan tanpa ada alasan jelas. Progress sedikit dan bertemu dengan titik crash baru. Titik crash yang terus memaksa kami mengulang, mengulang, mengulang, mengulang, dan mengulang, hingga kemudian, berlanjut lagi sedikit progress tanpa penjelasan sama sekali. Fakta yang lebih menyedihkan? Kami juga sempat berhadapan dengan dua kali kondisi dimana save data kami juga hilang, juga lagi-lagi tanpa alasan. Informasi mencatat bahwa sang developer sebenarnya sudah tiga kali melemparkan patch untuk Lords of the Fallen. Namun hasilnya? Omong kosong, setidaknya dari apa yang kami rasakan sendiri. Kami bahkan tidak bisa menyuntikkan setting grafis ke “High” atau “Very High” untuk preview ini, terlepas dari fakta bahwa rig kami mampu menanganinya. Setiap kali High muncul, crash. Mematikan V-sync dan PhysX dari NVIDIA sebagai metode yang kami temukan di dunia maya untuk meminimalisir hal tersebut juga tidak banyak membantu.
Untungnya, ada sedikit gambaran soal gameplay dari sedikit porsi yang berhasil kami selesaikan (setelah melewati beberapa crash). Secara garis besar, ia memang terasa seperti Dark Souls, dimana setiap musuh punya chance yang sama untuk membunuh Anda. Strategi untuk memenangkan setiap pertempuran adalah kesabaran ekstra, timing untuk melakukan evade, dan menyerang balik. Walaupun demikian, ada beberapa mekanik berbeda. Percakapan dengan pilihan dan konsekuensi berbeda, serta kehadiran sebuah senjata pendukung – Gauntlet yang memungkinkan sang karakter utama mengakses varian serangan proyektil dan blast memberikan sedikit atmosfer permainan yang berbeda jika dibandingkan dengan Dark Souls.

Sembari menunggu waktu yang lebih proporsional untuk melakukan review (dan berhadapan dengan lebih banyak crash yang tampaknya akan sangat menghambat kami), izinkan kami memberikan sedikit gambaran kepada Anda apa itu Lords of the Fallen. Untuk sementara ini, halangan terbesar game ini tidak terletak pada tingkat kesulitan yang ia tawarkan atau seberapa ia menuntut Anda untuk bermain secara sabar dengan timing super tepat. Tetapi lebih kepada apakah ia akan berjalan mulus atau tidak. Menyedihkan.

Lords of the Fallen PC jagatplay (24)

Lords of the Fallen PC jagatplay (2)

Lords of the Fallen PC jagatplay (6)

Lords of the Fallen PC jagatplay (11)

Lords of the Fallen PC jagatplay (15)

Lords of the Fallen PC jagatplay (31)

Lords of the Fallen PC jagatplay (33)

Lords of the Fallen PC jagatplay (49)

Lords of the Fallen PC jagatplay (60)

Lords of the Fallen PC jagatplay (87)

Lords of the Fallen PC jagatplay (90)

Lords of the Fallen PC jagatplay (97)

Lords of the Fallen PC jagatplay (104)

Lords of the Fallen PC jagatplay (112)

Lords of the Fallen PC jagatplay (4)

Lords of the Fallen PC jagatplay (25)

Lords of the Fallen PC jagatplay (66)

Lords of the Fallen PC jagatplay (27)

Lords of the Fallen PC jagatplay (47)

Lords of the Fallen PC jagatplay (72)

Lords of the Fallen PC jagatplay (85)

Lords of the Fallen PC jagatplay (107)

Sumber : JagatPlay

Australia Larang Peredaran Saints Row 4

saints row 4
Saints Row 4

Australia memang harus diakui merupakan salah satu negara yang terhitung ketat mendistribusikan beragam konten kreatif, termasuk video game. Variasi konten di dalam game yang mungkin tidak cocok untuk usia gamer tertentu diatur sedemikian rupa untuk memastikan tidak ada dampak psikologis berbahaya yang timbul. Untuk game-game yang mengandung tema kekerasan, darah, dan brutalitas, rating umur disuntikkan untuk memastikan bahwa hanya gamer yang cukup umur yang dapat menikmatinya. Namun, metode seperti ini tampaknya tidak menjadi jalan keluar untuk semua game yang ada. Beberapa game masih dianggap tidak layak untuk didistribusikan, seperti yang terjadi pada proyek open world teranyar Volition – Saints Row IV.
Australia memang sudah memperkenalkan rating R 18+ untuk semua game yang dianggap memuat konten yang tidak pantas. Walaupun demikian, rating ini ternyata tidak cukup kuat untuk menampung “kegilaan” yang disuntikkan oleh Deep Silver Volition di Saints Row IV. Australian Classification Board memutuskan untuk tidak meluluskan Saints Row IV dan melarang peredaran game tersebut di Australia. Alasannya? Saints Row IV dianggap memuat konten kekerasan seksual dan penggunaan obat-obatan terlarang yang terlalu eksplisit. Ini dianggap bertentangan dengan kebijakan yang selama ini digariskan oleh pemerintah Australia.

 Dengan keputusan yang satu ini, opsi gamer Australia yang ingin membeli Saints Row IV secara resmi kini bergantung pada proses impor atau mengunduhnya secara ilegal. Walaupun keputusan seperti ini terlihat buruk di mata gamer, namun fakta bahwa pemerintah peduli dan memperhatikan kesehatan psikologis rakyatnya seperti yang dilakukan oleh Australia meninggalkan rasa iri tersendiri, apalagi jika melihat kondisi gamer Indonesia yang dapat menikmati game apapun, terlepas dari umurnya.

Sumber : JagatPlay

Review Hatred : Kill All People? Just Do IT!

Hatred the game  

Sore EGers! Kali Ini Ane Mau Kasih Review Nih, Review Hatred The Game Yang Pastinya Sayang Buat EGers Lewatin :D

 Sebagian besar dari kita tentu saja masih ingat dengan salah satu misi paling kontroversial sepanjang masa – No Russian yang muncul di game FPS andalan Activision – Call of Duty: Modern Warfare 2. Meminta Anda untuk menembaki dan membunuh orang-orang tidak berasalah, No Russian memancing begitu banyak kritik dan diskusi terbuka di dunia maya. Beberapa melihatnya sebagai sebuah dramatisasi yang seharusnya tidak perlu ada, namun tidak sedikit pula yang melihatnya sebagai sesuatu yang esensial untuk membangun konflik di Modern Warfare 2. Sekarang bayangkan, sebuah game yang mengusung konsep seperti “No Russian” di sepanjang permainannya? Ucapkan selamat datang kepada – Hatred the Game!

 Dikembangkan oleh developer asal Polandia – Destructive Creations, Hatred menawarkan intisari gameplay seperti namanya – kebencian. Alih-alih sebagai tokoh protagonis, karakter utama Anda adalah seorang penjahat yang sudah muak dan benci dengan cara dunia bekerja dan memutuskan untuk turun ke jalan dan membunuh siapapun yang ia temui, yang sebagian besar tentu saja didominasi oleh orang-orang tidak bersalah. Dikembangkan dengan Unreal Engine 4 dan gaya kamera isometrik, Anda juga harus bertempur dengan para aparat keamanan yang akan berusaha mencegah aksi Anda. Seperti yang bisa diprediksi, dunia maya bereaksi negatif terhadap game ini.

 Respon yang dikeluarkan oleh sang developer juga tidak banyak membantu. Mereka menyebut bahwa Hatred dibangun dengan menjadikan “kesenangan” sebagai fokus utama dan tidak ragu mempopulerkan game mereka tak ubahnya sebuah simulator pembunuhan massal. Di situs resmi mereka, tim developer ini bahkan secara terbuka menuliskan bahwa Hatred tidak akan memberikan alasan bagi Anda untuk membiarkan siapapun hidup. Tidak jelas cerita seperti apa yang akan ia usung.

Hatred the game (2)
Hatred the game (3)
Hatred the game (4)
Hatred the game (5)
Hatred the game (6)
Hatred the game (7)
Hatred the game (8)
Hatred the game (9)
Hatred the game (10)
Hatred the game (11)
Hatred the game (12)
Hatred the game (13)
Hatred the game (14)
Hatred the game (15)
Hatred the game (16) 
Hatred the game (17)
Hatred the game (18) 
Hatred the game (19)
Hatred the game (20)
 Hatred sendiri rencananya akan dirilis pada kuartal kedua tahun 2015 mendatang, eksklusif untuk PC. Bagaimana dengan Anda sendiri? Tertarik dengan game yang satu ini?
Jika GTA dan Dark Souls saja sudah sering menjadi kambing hitam untuk setiap kejahatan yang diklaim terinspirasi dari video game, entah seperti apa efek Hatred ini di masa depan.. Yang Pastinya Bikin Kita Merinding Keinget Efek Game SmackDown Beberapa tahun Lalu :D
Well Menarik Untuk Ditunggu Ya EGers :D

Sumber : JagatPlay

Ubisoft Janji Benahi Diri Setelah Kritik AC: Assasin's Creed Unity


Assasin's Creed Unity
“Ubisoft adalah EA yang Baru”, entah berapa sering Anda mendengar ungkapan yang satu ini selama beberapa hari terakhir ini. Bagiamana tidak? Terlepas dari hype dan antisipasi yang sangat kuat, untuk kedua kalinya, Ubisoft datang dengan ekstra kekecewaan. Setelah rilis Watch Dogs yang ternyata tidak berakhir sebaik yang dibayangkan, terutama untuk gamer PC, Ubisoft kembali melakukan hal yang sama dengan AC Unity. Framerate kacau, bug, glitch, sistem microtransactions dan paksaan mengunduh aplikasi mobile yang disertakan menjadi catatan tersendiri. Dengan ekstra kebijakan embargo review yang ada, AC Unity juga gagal tampil memesona di mata reviewer game luar. Nilai buruk dan kritik pedas tampaknya menjadi tamparan yang cukup keras untuk publisher raksasa yang satu ini.
Ubisoft tampaknya sangat mengerti respon seperti apa yang mereka dapatkan dari gamer dan media perihal produk terbaru mereka – AC Unity. Berbicara dengan BBC, Ubisoft berjanji akan melakukan introspeksi diri. Mereka akan mengubah cara mereka berinteraksi dengan reviewer game dan komunitas gamer pada umumnya, terutama dari masalah komunikasi dan layanan yang mereka tawarkan. Salah satu solusi singkat adalah menawarkan akses singkat via open beta / early access untuk membantu gamer mendapatkan informasi yang mereka butuhkan dan inginkan sebelum membeli produk Ubisoft di masa depan.

 Sementara untuk masalah reviewer game luar yang tidak diperkenankan merilis artikel mereka sebelum AC Unity dirilis ke pasaran, Ubisoft beralasan bahwa kebijakan tersebut ditempuh untuk membantu reviewer sendiri. Dengan fitur online yang ia usung dan basis fans yang besar, pengalaman setelah game dirilis dan dinikmati oleh banyak gamer dilihat sebagai sesuatu yang lebih representatif. Mereka menjadikan rilis Destiny sebagai salah satu contoh. Ubisoft sendiri tetap menegaskan bahwa mereka tengah berjuang keras saat ini untuk merangkum patch terbaru untuk memperbaiki sebagian besar masalah bug dan glitch yang ada, walaupun belum jelas, kapan akan rampung.
Harapan terbesar kami saat ini? Semoga saja tidak ada masalah serupa dan kritik yang sama ketika The Division dirilis tahun depan.. Please Ubisoft, don’t ruin The Division!

Sumber : JagatPlay

WOW PS4 dan Xbox One Termahal!


xbox one ps 42
Emas memang dikategorikan sebagai salah satu material dengan harga yang mahal. Tidak hanya sebagai perhiasan, belakangan ini emas kerap digunakan untuk melapisi berbagai produk agar terlihat lebih mewah dan premium.
Smartphone flagship dari produsen ternama yang dirilis dalam edisi terbatas berbalut emas mungkin sudah menjadi hal yang biasa. Namun jika produk dengan lapisan emas tersebut adalah sebuah konsol game, tentu lain cerita.
Ya, saat ini konsol game telah menjadi daya tarik tersendiri bagi retailer barang mewah.
Contohnya adalah Jumbo Electronics. Retailer raksasa di Uni Emirat Arab itu baru-baru ini memperkenalkan PlayStation 4 dan Xbox One berlapis Rose Gold!
Jumbo-unveils-gold-Xbox-console-at-Games14_2-720x403
Jumbo-unveils-gold-PS4-at-Games14_3-720x403
Kedua konsol tersebut didesain langsung oleh Gatti asal Italia yang memang sudah cukup populer di ranah perhiasan mewah. Yang lebih menarik, tak hanya berlapis emas, keduanya juga menawarkan desain yang sedikit berbeda dibanding versi aslinya.
Tak tanggung-tanggung, PS4 dan Xbox One versi Rose Gold masing-masing dibanderol senilai USD 13,600 atau sekitar Rp 160 juta! Harga yang luar biasa mahal untuk sebuah konsol game.
Gimana EGers? Tertarik membelinya?

Sumber : JagatPlay